CLICK HERE FOR FREE BLOG LAYOUTS, LINK BUTTONS AND MORE! »

Friday, August 3, 2012

Hasan, Saya, dan Suratnya yang Sangat Menginspirasi



 Di awal Juli, saya mengirimkan beberapa buku dan sebuah surat untuk adik-adik di SDN 006 Paser Belengkong, sekolah tempat Rini, saudari kembar saya, mengabdikan diri sebagai Pengajar Muda. Bersama surat tersebut saya kirimkan foto yang saya ambil dua tahun lalu di Golden Gate, San Fransisco. Tidak banyak yang saya tulis karena saya bingung mau menulis apa. Jadi saya putuskan bahwa surat tersebut harus menyampaikan pesan yang cukup sederhana, “Membaca itu memperluas wawasan kita.” Seperti tema Bulan Bahasa saja yah.
Di surat tersebut saya cerita tentang inspirasi unik yang saya dapat dari kelas bahasa Indonesia saya di SMA dulu.  Keingintahuan tentang Golden Gate berawal ketika Bu Muflihah, guru saya, menugaskan saya dan teman-teman sekelas untuk memusikalisasi puisinya Sapardi Damono “Kartu Pos  Bergambar Golden Gate” yang melukiskan Golden Gate dengan indah sekali. Dan lima tahun kemudian, dengan segala kemudahan dari Allah SWT, saya melihat keindahannya langsung di kota San Francisco, California, Amerika Serikat. Selain itu, saya juga sedikit banyak bercerita tentang jembatan tersebut. Mengingat usia mereka yang masih muda, saya berusaha untuk membuat surat saya sesederhana mungkin.
Beberapa hari kemudian, saya mendapat banyak sekali surat balasan dari adik-adik tersebut.  Surat-surat mereka benar-benar menghibur, ditulis dengan segala kepolosan khas anak-anak. Tapi, di antara semua surat itu ada satu surat yang membuat saya menitikkan air mata penuh haru. Hasan, salah seorang siswa Rini, telah memberanikan diri untuk berbagi cerita tentang mimpi-mimpinya yang luar biasa. Dia ingin keliling dunia,  jadi astronot yang menjelajahi ruang angkasa,  menemukan alat transfortasi yang memudahkan manusia bermobilisasi, dan membantu anak yatim.  Begini tulisnya,

Saya akan berusaha agar saya bisa sukses. Dan jika saya benar-benar sukses, saya akan mengelilingi dunia.
Saya juga ingin menjelajah keluar angkasa dan menemukan benda-benda langit yang indah.
Dan saya ingin menemukan pelanet-pelanet yang mirip bumi.
Dan saya juga akan mencari tata surya yang lain. Mungkin saja ada penghuninya. Mungkin penghuninya baik dan ramah.
Dan saya akan menjelajah lebih jauh lagi agar saya bisa tebih tau lagi tentang seluruh alam semesta yang indah.
Dan saya juga akan membuat alat transfortasi yang baru. Jika saya bisa, saya akan menggunakannya ke mana saja.  Bahkan mungkin saya membuatnya untuk keliling kota yang ada di luar negeri.
Dan jika saya bisa, saya akan melestarikan hutan.
Dan saya tidak boleh lupa sholat lima waktu dan membantu orang tua saya sendiri dan membantu anak-anak yatim piatu.
Dan saya juga akan berusaha agar saya tidak boleh marah-marah kepada siapapun.

Namun,  Hasan membuka suratnya dengan sebuah pertanyaan galau, “Saya ingin tanya kepada ibu, apakah saya juga bisa seperti ibu? Jika saya bisa seperti ibu, saya.…” Ini konteks yang sulit Anda mengerti jika Anda tidak pernah merasakan hidup di desa.  Rini memberi tahu saya hal yang mengejutkan. Lima bulan lalu  Hasan bercerita dengan malu-malu di kelasnya bahwa cita-citanya adalah menjadi petani. Untuk seorang anak yang tumbuh besar dalam keluarga petani di pedalaman Kalimantan Timur, mimpi dan cita adalah sesuatu yang sangat mewah yang bahkan untuk memilikinya saja Anda butuh keberanian yang sangat besar.  Kebanyakan  dari mereka berpikir bahwa mereka akan menjalani hidup yang sama seperti yang orang tua mereka jalani. Hasan mungkin juga tidak berani menceritakan mimpinya luar biasa di kelas karena takut ditertawakan oleh teman-teman sekelasnya atau dianggap tidak logis.  
Saya berpikir beberapa hari sebelum menuliskan balasan untuk surat  Hasan dan adik-adik lainnya. Di antara semuanya,  surat Hasan ini yang paling susah dijawab. Saya menghabiskan cukup banyak waktu untuk membaca biografi tokoh-tokoh dunia dalam ilmu antariksa dan kedigantaraan pada umumnya. Jadi di surat balasan itu, saya bercerita tentang prestasi-prestasi Pak Habibie, Neil Armstrong, dan Johannes Kepler pada Hasan. Saya mencoba meyakinkan Hasan bahwa tidak ada yang tidak mungkin. Satu dari ketiga orang yang memberikan kontribusi banyak bagi hidup manusia itu bahkan putra negeri ini. Saya akhiri bagian itu dengan nasehat sederhana tentang ilmu pengetahuan dan ilmu agama.

KAMU BISA, Hasan. Insya Allah Hasan bisa menjadi insan yang memberikan manfaat yang luar biasa pada pengembangan ilmu pengetahuan, dan perbaikan hidup manusia. Insya Allah Hasan bisa menjadi seperti apa yang Hasan cita-citakan. Jadi Hasan harus rajin belajar, banyak membaca, berbakti kepada orang tua, sholat 5 waktu, terus mengaji, dan menjadi anak yang baik untuk teman-teman, dan lingkungan sekitar Hasan.
  Di sisi lain, Hasan membuat saya benar-benar berpikir tentang hal yang benar-benar ingin saya lakukan dalam hidup saya. Karena dia telah berbagi mimpinya dengan saya, maka saya pun ingin berbagi mimpi saya dengannya. Saya ingin dia tahu bahwa dia tidak sendirian. Jika saya, dia dan jutaan anak Indonesia lainnya bekerja keras, insya Allah kita semua bisa membangun negeri ini dengan baik.
 Ibu bercita-cita menjadi seorang praktisioner dalam bidang kemanusiaan. Ibu ingin membuat banyak proyek sosial yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ibu ingin membuat banyak sekolah, perpustakaan, dan  universitas yang memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dan meraih mimpi mereka. Ibu ingin membiayai proyek-proyek pengadaan air bersih untuk mereka yang sulit mendapatkannya. Ibu ingin memfasilitasi mediasi di daerah-daerah berkonflik. Ibu ingin menciptakan banyak lapangan pekerjaan agar taraf hidup manusia Indonesia menjadi lebih baik. Ibu juga ingin mengubah kurikulum pendidikan Indonesia agar lebih bermakna dan menyiapkan para siswa untuk masa depannya. Banyak sekali yang ingin ibu lakukan, Hasan. Oleh karena itu, ibu juga tidak boleh menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Kesulitan hanyalah penguji kesungguhan. Ibu juga harus terus belajar, mendekatkan diri pada Allah SWT, dan mengasah kemampuan agar dapat mewujudkan mimpi-mimpi ibu. Selama kita memiliki kesungguhan, kedisiplinan dan ketulusan niat, insya Allah kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita.
 Surat Hasan menginspirasi saya untuk mengambil keputusan besar dengan berani di tengah kegalauan yang melanda saya selama tiga bulan ini. Saya kembali menitikkan airmata setelah menuliskan mimpi-mimpi saya. Saya melirik Letter of Acceptance dari SIT Graduate Institute yang saya terima sejak bulan April lalu. Saya katakan pada diri saya bahwa saya harus memperjuangkannya dengan sungguh-sungguh. Saya akan mengusahakannya dengan kemampuan terbaik saya dan berserah atas segala keputusan-Nya. Saya tidak akan pernah menyerah. Jika Allah mengizinkan, insya Allah saya bisa, meski sebanyak apapun kesulitan yang harus saya hadapi. Allah sebaik-baik penolong. Allah Maha Tahu yang terbaik untuk setiap hamba-Nya.
Saya tutup surat balasan untuk Hasan dengan mengutip kata-kata Ustad Yusuf Mansur, “Kita harus memiliki mimpi yang luar biasa, ikhtiar yang luar biasa, dan doa yang luar biasa.”


            


Surat Balasan untuk Hasan



Palembang, 17 Juli 2012
Menemui Hasan, calon ilmuwan terkemuka Indonesia di masa depan
Assalamu’alaikum wr. wb.

Jembatan itu bernama ”Golden Gate” yang berarti Gerbang Emas. Letaknya di kota San Fransisco, California, Amerika Serikat.  Di tahun 2005, ibu membaca puisi tentang jembatan itu. Puisi tersebut  berjudul “Kartu Pos Bergambar Golden Gate” karya Sapardi Djoko Damono. Alhamdulillah..Ibu pergi belajar ke Amerika Serikat dan bisa melihat langsung jembatan itu pada tahun 2010.
Hasan, Ibu menitikkan air mata ketika membaca surat Hasan. Ibu terharu sekali. Subhanallah.. Hasan punya mimpi yang luar biasa. Tentu Hasan juga insya Allah bisa menjelajahi benua, bertemu orang-orang dari berbagai belahan dunia, dan belajar hal-hal baru di sana. Insya Allah Hasan juga bisa Pak BJ Habibie yang merupakan salah satu ilmuwan terkemuka di dunia. Hasan sudah baca tentang Pak Habibie? Beliau adalah seorang jenius yang banyak menemukan teori yang bermanfaat besar di bidang kedirgantaraan.  Salah satu teorinya adalah krack progression. Teori ini membuat pesawat lebih aman. Tidak saja bisa menghindari risiko pesawat jatuh, tetapi juga membuat pemeliharaannya lebih mudah dan murah.
Dalam dunia penerbangan, Pak Habibie juga membuat terobosan ini tersohor dengan sebutan Faktor Habibie. Faktor Habibie bisa meringankan bobot pesawat  hingga 10% dari bobot sebelumnya. Dengan begitu, secara umum daya angkut pesawat meningkat dan daya jelajahnya makin jauh.  Tak hanya itu, Pak Habibie juga mendirikan PT. Industri Pesawat Terbang Nurtanio yang menjadi industri pesawat terbang pertama di Kawasan Asia Tenggara pada tahun 1976. Pak Habibie juga meraih kepercayaan lebih bergengsi, yakni mendesain utuh pesawat-pesawat baru prototipe DO-31, pesawat baling-baling tetap pertama yang mampu tinggal landas dan mendarat secara vertical, pesawat terbang pertama buatan Indonesia CN-235 dan  N-250, dan pesawat Airbus A-300 yang diproduksi konsorsium Eropa. Bahkan, Pak Habibie juga pernah menjadi presiden Republik Indonesia ini loh, Hasan.
Hasan, kamu juga insya Allah bisa lebih hebat dari Neil Armstrong yang menjadi manusia pertama yang menginjakkan kakinya di bulan pada 20 Juli 1969 dan Johannes Kepler yang menguraikan tiga hukum dasar gerakan planet yang dijelaskan dengan gerak elips planet-planet tersebut mengelilingi matahari. KAMU BISA, Hasan. Insya Allah Hasan bisa menjadi insan yang memberikan manfaat yang luar biasa pada pengembangan ilmu pengetahuan, dan perbaikan hidup manusia. Insya Allah Hasan bisa menjadi seperti apa yang Hasan cita-citakan. Jadi Hasan harus rajin belajar, banyak membaca, berbakti kepada orang tua, sholat 5 waktu, terus mengaji, dan menjadi anak yang baik untuk teman-teman, dan lingkungan sekitar Hasan.
Karena Hasan sudah berbagi mimpi Hasan dengan ibu, ibu juga akan berbagi mimpi ibu dengan Hasan. Ibu bercita-cita menjadi seorang praktisioner dalam bidang kemanusiaan. Ibu ingin membuat banyak proyek sosial yang dapat bermanfaat bagi orang banyak. Ibu ingin membuat banyak sekolah, perpustakaan, dan  universitas yang memberikan kesempatan bagi setiap anak untuk mendapatkan pendidikan berkualitas dan meraih mimpi mereka. Ibu ingin membiayai proyek-proyek pengadaan air bersih untuk mereka yang sulit mendapatkannya. Ibu ingin memfasilitasi mediasi di daerah-daerah berkonflik. Ibu ingin menciptakan banyak lapangan pekerjaan agar taraf hidup manusia Indonesia menjadi lebih baik. Ibu juga ingin mengubah kurikulum pendidikan Indonesia agar lebih bermakna dan menyiapkan para siswa untuk masa depannya. Banyak sekali yang ingin ibu lakukan, Hasan. Oleh karena itu, ibu juga tidak boleh menyerah dalam keadaan sesulit apa pun. Kesulitan hanyalah penguji kesungguhan. Ibu juga harus terus belajar, mendekatkan diri pada Allah SWT, dan mengasah kemampuan agar dapat mewujudkan mimpi-mimpi ibu. Selama kita memiliki kesungguhan, kedisiplinan, dan ketulusan niat, insya Allah kita bisa mewujudkan mimpi-mimpi kita.
 Ibu akhiri surat ini dengan mengutip ucapan Ustadz Yusuf Mansur, “Kita harus memiliki mimpi yang luar biasa, ikhtiar yang luar biasa, dan doa yang luar biasa.”


Salam,
Dian Mayasari

Saturday, July 9, 2011

Surat untuk Mommy

Dear Mommy,

Rumah tiba-tiba terasa begitu sepi tanpamu. Belum satu hari, tapi aku sudah sangat merindukanmu. Benar-benar rindu, mom. Tapi jangan khawatir. Aku akan baik-baik saja. Aku akan hidup dengan baik. Aku janji akan melanjutkan semua rencana kita, mimpi kita. Sesulit apa pun keadaan, aku tidak akan pernah menyerah. Sebanyak apa pun aku jatuh dan terluka, aku akan bangkit dan mencapai semuanya. Aku akan kuat dan tetap teguh menatap masa depan. Tidak satu menit pun aku akan melupakan semua yang mommy sudah berikan untukku selama 22 tahun 4 bulan 13 hari ini. Aku janji, mom.

Berliburlah dengan tenang, mom. Aku tahu mommy sudah melakukan yang terbaik. Aku tahu mommy sangat ingin melihat aku hidup bahagia, menikah, mendidik anak-anakku dengan baik, mengerjakan proyek-proyek sosial yang bermanfaat untuk banyak orang, dan berada pada puncak karirku. Karena itu, mommy berjuang untuk tetap dalam keadaan conscious setelah serangan hari Rabu, 22 Juni 2011, itu. Tahukah mommy bahwa 35 % dari orang yang mengalami serangan serupa meninggal dalam hitungan menit, mereka tidak pernah mencapai RS. Tapi mommy? Mommy bahkan tetap dalam keadaan conscious sebelum operasi berlangsung keesokan harinya. Aku tahu mommy juga telah berjuang sangat keras untuk survive selama 12 hari itu. Mommy orang yang luar biasa! Mommy adalah perempuan dengan ketegaran dan semangat yang luar biasa! Kami menghargai semua perjuangan mommy itu. Terima kasih, mom. Terima kasih telah memberikan aku, Rini, dad, dan yang lainnya kesempatan untuk tetap bersama mommy selama 12 hari itu. Terima kasih untuk usaha keras mommy itu.

Mommy tahu, mommy adalah ibu terbaik di dunia ini. Mommy adalah orang paling pertama yang selalu mempercayaiku. Mommy selalu percaya pada setiap pilihan yang aku ambil dalam hidupku. Tidak pernah sekalipun mommy memaksakan pilihan mommy padaku. Mommy selalu mendengarkan semua ceritaku, sesepele apa pun itu. Mommy selalu tahu kapan harus bersikap seperti teman sebaya, seperti kakak perempuan, dan seperti seorang ibu. Semua itu sangat sangat berarti untukku, mom. Karena semua itu, aku selalu ingin menjadi yang terbaik di manapun aku berada. Selalu ingin jadi anak yang membanggakan dan bisa membahagiakan mommy.Terima kasih untuk semua itu. Benar-benar tidak tahu harus membalasnya dengan apa, mom. Jika orang bilang bahwa kepercayaan hanya bisa dibayar dengan “bukti,” aku akan memberikan mommy “bukti.” Aku janji, mom. Aku janji bahwa mommy tidak akan menyesal karena telah selalu percaya padaku.

Mommy tahu, mommy adalah keajaiban terbesar yang terjadi dalam hidupku. Mommy adalah inspirasi yang begitu nyata untukku. Karena mommy, hidup menjadi begitu luar biasa. Karena doa-doa mommy, banyak keajaiban lainnya yang terjadi dalam hidupku. Terima kasih mom.

Mommy tahu, mommy adalah seorang pendidik sejati. Dari mommy, aku belajar banyak hal yang tidak pernah bisa diajarkan di sekolah manapun. Tentang hidup, pilihan dalam hidup, cinta, pengabdian, pencapaian, pernikahan, dan hal lainnya. Aku akan terus mengingat itu setiap hal yang telah mommy ajarkan itu. Insya Allah aku juga akan mengajarkannya kepada anak-anakku nanti, mom. Seperti mommy, insya Allah aku juga akan menjadi ibu terbaik di dunia ini untuk mereka. Seperti mommy, insya Allah aku juga akan jadi ibu yang membanggakan untuk anak-anakku. Aku janji, mom. Janji!

Lihat, mom. Aku selalu punya begitu banyak hal yang ingin kuceritakan pada mommy. Bahkan selama di USA dulu, badanku bakal panas dingin jika 3 hari saja tidak menelpon mommy. Secara fisik, kita terpisah jarak lagi sekarang. Mommy pergi ke tempat yang gak ada internet, LAN, wifi, hp, dan tukang posnya. Aku hanya bisa menjangkau mommy dengan doa-doaku. Mommy bilang doa bisa menjangkau jarak sejauh apa pun. Jika begitu, setidaknya lima kali sehari aku akan menghubungi mommy. Mommy tidak akan kesepian, kami akan terus menghubungi mommy melalui doa-doa kami. Jangan sedih. Kita hanya berpisah untuk sementara waktu, mom. Saat kita bertemu lagi di surga-Nya, mommy akan memelukku kan? Yah kan, mom?

#Sirah Pulau Padang, 5 Juli 2011, 16:00 WIB


Wednesday, February 23, 2011

Hidup dan Pilihan

“I am the captain of my soul.” -Nelson Mandela
Hidup adalah perguliran dari pilihan demi pilihan. Dan setiap pilihan memiliki konsekuensinya masing-masing. Saya pernah bertanya pada ibu kenapa beliau selalu menerima rasionalisasi-rasionalisasi saya. Saya tak paham kenapa beliau tidak pernah memaksakan kehendaknya terhadap saya, seperti kebanyakan orang tua lainnya. Misalnya saja ketika saya dan Rini memilih IPS sebagai jurusan saya ketika kelas 3. Beliau tidak ngotot bahwa saya harus masuk IPA, seperti ibu-ibu teman saya lainnya. Padahal alasan saya untuk memilih IPS cukup sederhana. Saya memilih IPS karena saya memiliki minat yang lebih besar terhadap ilmu sosial. Saya sebenarnya yakin saya bisa saja survive jika masuk IPA, tapi di sana saya hanya akan jadi average people.
Atau ketika saya memutuskan untuk SPMB walau pun dengan persiapan seadanya setelah hasil PMDK tidak sesuai harapan saya. Saya mungkin memang menyukai pelajaran bahasa Indonesia. Tapi saya tidak yakin akan bisa menjalani hari-hari hanya dengan belajar bahasa Indonesia. Terlebih lagi, saya tidak akan bisa melakukan petualangan apa pun lagi dengan bahasa Indonesia itu. Dengan bahasa Indonesia itu, saya hanya akan sticked around Indonesia saja. Belajar bahasa Inggris bagi saya adalah batu loncatan (stepping stone) untuk mencapai mimpi-mimpi saya lainnya. Sekali lagi saya berspekulasi. Ibu cemas sekali. Saya bisa saja tidak lulus SPMB, harus menganggur satu tahun, dan ikut SPMB lagi tahun depannya. Itu kemungkinan terburuk. Saya tahu itu, dan saya siap menerimanya. Itu lebih baik dari pada harus melakukan sesuatu yang tidak benar-benar ingin saya lakukan. Itu lebih baik dari pada menjalani hidup yang tidak akan saya sukai.
Juga ketika saya berkata bahwa saya ingin menimbah ilmu di negeri orang. Saya katakan pada ibu bahwa kuliah S1 hanya satu kali seumur hidup, jadi saya ingin mencoba setiap kesempatan yang ada di depan mata saya. Karena kuliah S1 hanya satu kali seumur hidup, saya ingin menjalani dengan hal-hal positif. Saat semester 2, saya pernah mencoba beasiswa pertukaran ke Jepang, namun gagal pada tes terakhir. Saya hanya masuk dalam kategori lima besar kampus, dan yang berangkat ke Jepang hanya yang nomor satu, seorang senior dari FT angkatan 2004. Semester ke 4, saya mencoba lagi beasiswa ke USA. Saya meyakinkan ibu bahwa saya tidak akan sedih jika kali ini juga bukan rejeki saya. Saya akan terus mencoba hingga saya mendapatkannya.
Dalam peristiwa-peristiwa besar itu, kenapa beliau tidak sekali saja meminta saya agar mengikuti keinginan beliau. Kenapa beliau selalu setuju pada pilihan saya? Kenapa beliau selalu menerima logika berpikir saya? Beliau menjawabnya dengan penjelasan pendek saja.
“Karena hidup ini adalah hidupmu. Kau adalah orang paling pertama yang akan menanggung konsekuensi dari setiap pilihanmu itu. Jika kau tahu apa yang kau lakukan, konsekuensinya nanti apa saja, dan kau siap menanggungnya, bagi ibu itu sudah lebih dari cukup,” katanya.
Saya benar-benar terharu mendengar jawaban ibu. Dengan jawaban semacam itu, ibu mengajarkan saya bahwa setiap pilihan itu harus diambil dengan kesadaran penuh dan kesiapan atas segala konsekuensinya. Sepakat dengan kata-kata ibu dan Nelson Mandela itu, saya ingin menjadi tuan atas hidup saya. Karena hidup hanya sekali, dan begitu singkat, saya ingin membuatnya benar-benar bermakna bagi saya dan orang-orang lain di sekitar saya. Saya ingin melakukan semua yang ingin saya lakukan. Saya ingin mencapai semua yang saya impikan. Tidak peduli berapa banyak penderitaan yang harus saya tanggung untuk menuju titik itu, saya akan menahankannya. Saya tahu saya mungkin akan jatuh, terluka, dan menangis berkali-kali, tapi saya akan tetap bangkit dan terus berjalan meski harus terseok-seok.

#Jogjakarta, 22 Februari 2011, 23: 00 WIB

Wednesday, December 1, 2010

Catatan Untuk Seorang Sahabat


          Aku rindu padanya, rindu pada kacamatanya, rindu pada matanya yang menyipit ketika tersenyum padaku, rindu pada caranya menyebut namaku. Aku rindu mendengarnya mengetuk pintu apartemenku. Aku rindu berjalan di tengah gerimis bersamanya. Aku rindu memakai payung biru yang dia belikan untukku. Aku rindu memasak makan siang untuknya. Aku rindu pergi ke gym bersamanya, memandangnya berlari dengan cepat di treadmill favoritnya. Aku rindu makan malam bersamanya di dining hall, dan mendengar dia mengomeli aku gara-gara aku hanya makan sebuah pisang sebagai santap malamku.
        Aku rindu mendengarnya berkata bahwa wajahku terlihat ceria sekali. Aku rindu melihat dia begitu cemas ketika aku tidak makan dengan teratur. Aku rindu melihatnya memasak makan malam untukku ketika aku terlalu disibukkan oleh skripsiku. Aku rindu omelannya ketika aku mulai mengkhawatirkan beberapa hal secara berlebihan. Aku rindu dia menemukanku dengan mata berbinar-binar ketika beberapa hari kami tidak bertemu karena aku terlalu sibuk dengan tugas kuliahku.
       Aku rindu melakukan community service bersamanya setiap sabtu, meski itu membuat aku harus membuat aku menghabiskan hari mingguku seharian di depan laptop; berkutat dengan jurnal-jurnal yang deadlinenya hari senin. Aku rindu belajar bersamanya, membaca jurnal-jurnal untuk ES 308, meski jurnal-jurnal tersebut membuat kepalaku berputar tujuh keliling. Aku rindu berdiskusi tentang apa saja dengannya, meski diskusi kami kadang diakhiri dengan pujian yang agak lebay darinya. Aku rindu pergi ke kelas gamelan bersamanya, meski rumah Sharon, sang guru, sangat jauh dari HSU. Aku rindu melihatnya menemani aku menangis, meski tangisku itu hanya untuk hal remeh temeh. Aku rindu menemukannya online dalam list YM-ku, meski apartemen kami hanya terpisahkan oleh satu gedung.
Aku rindu. Benar-benar rindu. Rindu sebenar-benarnya pada setiap hal kecil yang kulakukan bersamanya.

#December 1, 2010 Palembang 15.00 WIB